Tak Patah Semangat, Santri Tazkia IIBS Berhasil Lanjutkan Studi di Turki

Tahun ini, lima orang alumni Angkatan pertama SMA Tazkia International  Islamic Boarding School (IIBS) di antaranya Laocean Putri Emaida, Yafi Nabil Pradipta, Ahmad Roihan Firdiansyah, Muhammad Hafidz Rahman dan Nabilla Yudha Assyari akan bertolak ke Turki untuk melanjutkan studi pendidikan tinggi di Kirklareli University dan Bandirma University.

Keberangkatan ini tentu menjadi angin segar bagi seluruh civitas Tazkia IIBS. Pasalnya, kondisi pandemi yang melanda dunia sempat membuat kelima santri harus menunggu cukup lama untuk mendapat kepastian akan kelanjutan studi mereka. Hingga akhirnya kini mereka telah dipastikan bisa melanjutkan studi ke negara di benua biru itu.

Ustadz Moh. Suhaili selaku Manager of Overseas Study Enrolment menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua jalur seleksi yang bisa ditempuh santri untuk bisa melanjutkan studi di Turki. Melalui Tes YÖS yaitu tes masuk untuk mahasiswa asing, dan jalur seleksi berkas yang menggunakan nilai Ujian Nasional (UN) dan ijazah. Namun tahun ini pelaksanaan tes YÖS di Indonesia terpaksa dibatalkan karena kondisi pandemi yang melanda, Sehingga satu-satunya kesempatan santri adalah melalui seleksi berkas.

  

Belum berhenti di situ, UN yang juga ditiadakan kembali menjadi kendala bagi santri. Pasalnya, tidak semua universitas menerima berkas tanpa nilai UN. Sehingga, santri dan Tazkia harus kembali mencari universitas tertentu yang bisa menerima berkas dengan lampiran dan ijazah dan nilai sekolah.

“Proses seleksi berkas yang cukup lama, membuat mental dan keteguhan santri diuji. Apakah mereka akan tetap memilih berkuliah di Turki atau memutuskan untuk melepasnya,” ungkap Ustadz Suhaili.

Selanjutnya, Ustadz Suhaili mengungkapkan bahwa berkuliah di Turki sedikit berbeda dengan universitas di eropa lainnya. Nantinya, santri akan menjalani sekolah bahasa selama satu atau dua semester, bergantung hasil placement test yang akan mereka jalani nanti. Tujuannya agar mereka minimal mencapai level C1 atau level lima yang merupakan level tertinggi dari bahasa Turki itu sendiri.


Ustadz Suhaili menambahkan bahwa di Tazkia sendiri, santri telah mendapatkan pembinaan bahasa sejak memasuki kelas 12. Sehingga harapannya, santri sudah bisa mencapai minimal level B1 atau level tiga saat placement test nanti. Selain persiapan bahasa, sebenarnya santri juga akan dipersiapkan untuk mengikuti tes YÖS pada 1-2 bulan sebelum pelaksanaan tes, namun harus dibatalkan.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa saat di Turki nanti sebenarnya santri masih bisa mengikuti tes seleksi berkas dalam satu hingga dua bulan kedepan. Bahkan jika kondisi pandemi sudah mereda, santri juga masih bisa mengikuti tes YÖS di tahun berikutnya apabila santri ingin pindah ke universitas lainnya.

  

Menyadari hal tersebut, Ustadz Suhaili mengungkapkan bahwa Tazkia sudah bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki yang akan membantu santri dalam persiapan tes YÖS untuk tahun depan. Sehingga nantinya santri bisa mengikuti bimbingan dengan tim lembaga bimbingan belajar tersebut atau belajar secara privat dengan teman-teman PPI disana.

“Karena itu, saya harap santri harus selalu berpatokan pada target yang mereka. Baik pilihan kampus ataupun jurusan,” pesannya. (nai/lil)

Share this post