Safa Nadhira Azzahra: Bercita-cita Jadi Arsitek yang Hafal Alquran

Stigma masyarakat atas anak bungsu yang cenderung manja berhasil di tepis Safa Nadhira Azzahra. Selama menjadi santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) dirinya mampu membuktikan kemandiriannya. Meskipun sempat mengalami ketakutan tidak terbiasa dengan suasana pondok, namun akhirnya Ia mantap untuk menjalani hari-hari sebagai santri Tazkia. Sabtu, 18 Juli 2020 lalu, bersama dengan 277 santri lainnya Safa, sapaan akrabnya, dikukuhkan menjadi lulusan SMP Tazkia Angkatan 4 sekaligus sebagai wisudawan terbaik putri SMP Tazkia.

Bagi Safa, Tazkia seperti cinta pada pandangan pertama. Saat itu, dirinya masih duduk di bangku kelas 5 SD saat pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan Tazkia guna mengikuti Quran and Language Festival. Suasana Tazkia yang asri dan keramahan santri Tazkia kala itu berhasil meninggalkan kesan yang mendalam dalam hati Safa. Maka sejak saat itulah dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMP di Tazkia IIBS.

Santri berusia 16 tahun itu  mengakui bahwa dirinya sempat mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan teman baru. Ditambah kondisinya yang jauh dari orangtua dan harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri tentu kerap kali membuatnya merasa down dan takut. Namun, seiring banyaknya kegiatan yang dilakukan bersama sama, kini dirinya justru tak ingin berpisah dari teman temannya. Keberadaan ustadz dan ustadzah yang selalu mendampingi dan memotivasi juga banyak membantunya dalam beradaptasi. Maka, tak butuh waktu lama baginya untuk bisa beradaptasi dan menemukan kenyamanan di Tazkia.


“Momen persiapan ujian selalu tidak terlupakan bagi saya. Apalagi ujian tahfidz yang proses persiapannya berbeda dengan ujian biasa,” ungkap santri yang pernah menjadi ketua organisasi internal Tazkia Student Association (TSA) itu.

Gadis asal Malang itu juga bercerita tentang betapa dirinya harus berusaha keras dalam menyiapkan ujian untuk kurikulum Cambridge. Selain menyiapkan materi ujian, dirinya juga harus membiasakan diri dalam memahami soal soal yang berbahasa Inggris. Namun, usaha kerasnya itu nyatanya berhasil membawanya menjadi salah satu santri yang memperoleh nilai 3 besar terbaik di ujian Cambridge Checkpoint.

“Saya ingin menjadi Safa yang  bisa membanggakan orang tua saya dan selalu berusaha menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin,” tuturnya.

Rasa nyaman yang ia rasakan di Tazkia, membuatnya kembali ingin mengenyam pendidikan SMA di Tazkia. Terlebih dirinya ingin terus melanjutkan proses hafalan Quran di Tazkia. Target terbesarnya adalah berhasil menghafal 30 Juz dari Al Quran.


Cita-citanya sebagai arsitek Ia pahat mulai memasuki jenjang SMA ini. Baginya, menghafal Al Quran dan arsitek merupakan dua target yang perlu diraih. “Saya masih banyak pertimbangan antara mengambil jurusan  Profesional atau CEO. Karena di kedua jurusan tersebut ada target yang ingin saya capai di SMA Tazkia,” ungkapnya saat ditanya tentang penjurusan yang ingin diambilnya.

Putri dari pasangan Syamsu Rahmadi dan Neni Kusumawardani itu menyampaikan terimakasih dan rasa syukur yang mendalam atas kesabaran ustadz dan ustadzah Tazkia dalam mendidiknya, terlebih mengingat sifat Safa yang cenderung pemalu. Kedepannya, Safa berharap agar dirinya dapat terus mengembangkan diri serta lebih aktif lagi sebagai santri Tazkia. Sebagai kaka kelas, ia juga berpesan kepada adik kelasnya untuk berusaha menjadi lebih baik dari dirinya dan teman-temannya.

“Hidup di Tazkia itu seperti naik roller coaster, tetapi dari situ saya justru mendapat banyak pelajaran,” pungkasnya.

Share this post