Lanjutkan Studi di Australia, Alumni Tazkia IIBS Optimis Raih Impian Jadi Perancang Gim

Saat memilih jurusan untuk studi lanjutnya, Ahmad Tsaqif Hibatul Wafi Chusnurrofik tidak ragu untuk memilih Game Design and Animation. Alumni angkatan pertama SMA Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) itu memang sudah sejak lama bercita-cita ingin menjadi seorang game designer. Setelah melalui proses pertimbangan yang panjang, pilihannya akhirnya jatuh pada Curtin University, Australia.

Ketertarikannya pada gim muncul saat Ia duduk di bangku SMP. Kala itu Wafi, sapaan akrabnya, melihat bagaimana desainer gim tidak hanya merancang tetapi juga memainkan gim hasil rancangan mereka. Baginya itu adalah hal yangmengagumkan. Inspirator utamanya adalah Jeff Kaplan, Vice President di Blizzard Entertainment sekaligus perancang gim favoritnya kala itu. Sejak saat itu dirinya memutuskan untuk desainer gim.

“Di era modern ini, gim dapat dimanfaatkan untuk banyak aspek. Mulai dari sistem operasi di pabrik hingga membantu melatih koordinasi antara tangan-mata. Gim tidak bisa selalu dilihat dari sisi negatifnya saja, tetapi juga sisi positifnya,” ujarnya.

Semula, sulung dari empat bersaudara itu ingin melanjutkan studi di Jepang. Mengingat kecanggihan teknologi yang dimiliki negeri matahari itu. Bahkan, dirinya juga sudah mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa jepang. Namun, Ia  mengurungkan niat tersebut karena tidak tersedianya kelas Internasional untuk jurusan yang diinginkan.


Setelah melalui beragam pertimbangan, akhirnya santri berusia 18 tahun itu memutuskan untuk melanjutkan studi di Australia. Untuk itu dirinya kembali harus menyiapkan beberapa berkas, salah satunya adalah nilai IELTS. Setelah mengikuti proses persiapan sejak awal kelas 12, Ia memberanikan diri untuk mengikuti ujian pada Februari lalu.

“Meskipun saya sudah tinggal di Australia sejak kecil, tetapi saya tetap mengalami kesulitan dalam tes writing dan reading. Sehingga saya juga harus belajar dengan giat,” ungkapnya.

Setelah mendapat kabar bahwa ujian nasional ditiadakan, Ia langsung memutuskan bertolak ke Australia sembari menunggu semester selanjutnya perkuliahan. Sebabsemester pertama perkuliahan di Australia dimulai pada bulan Maret.

“Setelah dokumen untuk pendaftaran sudah saya terima dari Tazkia, saya langsung melakukan proses pendaftaran. Alhamdulillah saya lolos tepat lima hari sebelum semester dimulai,” ungkap santri peraih predikat Bahasa Inggris terbaik saat wisuda pada Juli lalu.


Putra pasangan Ir. Mohamad Anshori Chusnurrofik dan Maskunah Chusnurrofik itu menyadari bahwa jurusan Game Design and Animation merupakan jurusan yang asing bagi sebagian besar orang. Namun, menurutnya bukanlah sebuah masalah saat seseorang ingin memilih jurusan apapun yang dia inginkan, meskipun jurusan tersebut tidak familiar dibenak masyarakat luas.

“Maybe because I would rather learn something I want to learn that motivates me, rather than learn something you do not like but people pressure you on doing it,” jelasnya.

Kedepannya, Ia ingin membantu mengenalkan Indonesia melalui gim buatannya. Ia pun tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan nanti, dirinya bisa memberikan seminar atau workshop kepada santri Tazkia. Ia pun berpesan kepada adik kelasnya untuk tidak perlu khawatir saat menemui teman dengan karakter yang berbeda di masa kuliah nanti.

“Tidak ada yang namanya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), semua orang pasti akan akan ramah saat bertemu dengan orang baru,” pesannya. (nai/lil)

Share this post