Inspirational Talk : Ajak Santri Tazkia IIBS Menjadi Generasi Muslim yang Melek Lingkungan

Mengusung tema “Living Greens Teenagers” Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) kembali mengadakan Inpirational Talk untuk santri kelas XI putri SMA (20/11)/ Sesi kali ini meghadirkan Ir. Wardah Alkatiri, Ph.D, seorang Human Ecologist sebagai pembicara utama. Santri akan diajak untuk melihat lebih jauh tentang kondisi bumi saat ini dan mengaji permasalah lingkungan dari beragam aspek kehidupan. Sehingga, nantinya santri mampu menjadi generasi yang melek terhadap lingkungan dan dapat berperan aktif untuk memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan yang ada.


Wardah menegaskan bahwa sebagai generasi muslim, mencintai dan peduli terhadap alam merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Islam sejatinya merupakan agama yang menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam. Artinya, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga tumbuhan, dan hewan. Apabila manusia menggangu sistem yang dimiliki oleh alam, maka akan terjadi kekacauan dimana – mana.


“Saat ini kita perlu menyadari tiga hal, pertama sadar bahwa kita adalah khalifah Allah. Kedua sadar bahwa bumi sedang sakit parah, dan yang ketiga sadar bahwa ada bahaya yang berakibat pada kesehatan kita semua,” ungkapnya.


Agar bisa menyadari masalah pertama, manusia harus terlebih dahulu melihat bahwa alam ini bukanlah benda mati. Menurut Wardah, hal itu harus disadari oleh generasi muda. Justru idealnya, bentuk kecintaan kepada alam harus ditumbuhkan sejak kecil. Sebab permasalahan saat ini, generasi yang lebih tua justru tidak memahami pentingnya menjaga alam. Sehingga, mereka cenderung tidak peduli dan membuat keputusan yang merusak alam.


“Banyaknya hewan yang mulai masuk ke pemukiman warga, itu ya karena pembukaan hutan tanpa memperhatikan hewan dan tumbuhan. Dulu saat hewan dan tumbuhan hidup leluasa di alam, mereka tidak membutuhkan bantuan manusia. Sekarang saat manusia mulai mengambil alih hutan, mereka jadi kesulitan,” jelasnya.

   


Selain habisnya hutan, adanya pandemi covid-19 juga merupakan akibat kacaunya sistem alam. Berdasarkan pada penelitian, 75% dari penyakit baru merupakan penyakit hewan yang menyerang manusia, atau zoonotic. Meskipun begitu, Wardah mengungkapkan bahwa pandemi yang telah melanda selama hampir satu tahun ini nyatanya berhasil menekan emisi gas rumah kaca yang sebelumnya selalu mengalami peningkatan.


Emisi gas rumah kaca yang menumpuk di atmosfer merupakan penyebab utama fenomena global warming. Yaitu naiknya suhu bumi secara global. Fenomena itulah yang menyebabkan seringnya terjadinya banjir dan kekeringan di sejumlah daerah. Kenaikan emisi gas rumah kaca tersebut mulai terjadi secara signifikan setelah adanya era industrialisasi.


“Salah satu solusinya adalah kita harus mulai mengerem laju industri di dunia. Mulai menggunakan konsep green business dan beralih pada energi terbarukan. Jika semua negara tidak mau mulai berubah, maka bisa-bisa akan muncul virus yang lebih ganas di masa depan,” tuturnya.

   


Sebagai individu, Wardah menyampaikan beberapa cara yang juga bisa dilakukan untuk membantu menyelamatkan alam. Pertama, memilih gaya hidup minimalis, sederhana, dan tidak konsumtif. Kedua, mulai membangun hubungan denga alam seperti menanam pohon, menyangi hewan, belajar mebuat kompos dan sebagainya. Saat itu sudah dilakukan, akan muncul kesadaran dan keterikatan kepada alam yang lebih kuat. Ketiga, tidak ikut menambah sampah plastik. Keempat, tidak merokok.


Terakhir, Wardah mengungkapkan bahwa saat seseorang sadar akan dampak kerusakan alam terhadap kesehatan mereka, maka mereka akan mulai menyebarkan pengetahuan tentang itu. Mereka juga akan membantu untuk menanggulangi ancaman kesehatan yang mungkin tidak terlihat besar namun sangat berdampak. Seperti polusi udara, air, tanah, bahkan hingga radiasi dan polusi bahan kimia berbahaya.


“Ayo bersama-sama kita menjadi generasi yang melek lingkungan. Jangan anggap ini sebagai sesuatu yang membeban. Justru nantinya akan banyak manfaat yang kita dapatkan. Kita juga bisa menggunakan sains sebagai alat untuk membantu sesama manusia sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT,” pesannya. (lil/nai)

 

Share this post