Berikan Inovasi untuk Infertilisasi Nyamuk, Santri Tazkia IIBS Raih Perunggu dalam International Invention 2020 di Iran

“Mengapa harus minder atau terintimidasi kalau kita bisa melakukan yang terbaik ?”

Kalimat itu dilontarkan Deevanya Azalea Aprillia Putri, Santri kelas X SMA Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) yang baru saja membawa pulang medali perunggu dalam gelaran Khayyam: International Invention and Innovation Competition. Perlombaan ini diadakan secara daring oleh Isfahan University of Technology Iran sejak Bulan November hingga Desember 2020. Perlombaan ini ditujukan kepada seluruh pelajar di dunia mulai jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Universitas bahkan umum.

Dengan mengangkat judul Dadap Leaves Extract as Infertility Agent in Mosquitoes, Deevanya, sapaan akrabnya, berusaha menekan perkembangbiakan nyamuk dengan menggunakan ekstrak daun dadap. Ide ini berangkat dari tingginya data penderita malaria dan demam berdarah di dunia. Dua penyakit itu merupakan contoh penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Karenanya, Ia berusaha untuk mengatasi masalah tersebut dengan menekan akar masalahnya, yaitu mengurangi populasi nyamuk yang menjadi pembawa dari penyakit tersebut.


“Hasil dari percobaan ini dapat digunakan sebagai bahan pengharum ruangan atau dicampurkan ke bak mandi maupun genangan air, bergantung dari keadaan di sekitar kita bagaimana,” jelas santri asal surabaya itu.

Sebelum melakukan presentasi final pada 15 Desember 2020, Deevanya secara intensif melakukan proses pembinaan secara daring dengan asatidz Tazkia. Baik pembinaan terkait kepenulisan abstrak, rangkuman penelitian, poster, maupun presentasi yang harus menggunakan bahasa inggris. Proses itu Ia lakukan diantara kegiatan belajar mengajar reguler Tazkia. Sehingga memang diperlukan komitmen dan kedisiplinan dalam menjalaninya.

Diakui Deevanya, bahwa sejak duduk di bangku SMP dirinya memang kerap kali mengikuti berbagai perlombaan baik karya ilmiah maupun olimpiade. Sehingga dirinya memang sudah cukup terbiasa dengan atmosfir perlombaan. Hal itu juga menjadi api semangatnya untuk bisa terus berprestasi ditengah pandemi.

  

“Motivasinya karena ini masa pandemi, dengan mengikuti lomba, mungkin saya bisa menjadi lebih produktif yang melakukan hal yang bermanfaat,” ungkapnya.

Ustadzah Ratu Fatimah, selaku pembina memang membenarkan bahwa selama proses pembinaan Deevanya selalu aktif untuk memulai diskusi. Bahkan pada satu minggu terakhir menjelang presentasi final, dirinya dan Deevanya hampir setiap hari berdiskusi mempersiapkan materi yang akan dipresentasikan. Namun meskipun begitu patut disyukuri bahwa santri berhasil memperoleh hasil yang terbaik.

“Tidak dipungkiri pembinaan secara online kadangkala dapat menimbulkan mispersepsi saat berdiskusi, jadi usaha yang dilakukan mungkin 2 kali lipat daripada saat tatap muka,” tutupnya. (nai/lil)

Share this post