Replicating Hijrah of The Messenger by Perfoming Good Habits

Pelajaran tentang hijrah tersiratkan dalam perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah 1440 tahun yang lalu. Proses dan pelajaran tentang hijrah pasti dialami oleh setiap orang. Entah hijrah dari kebiasaan buruk ke baik dan sejenisnya. Dalam konteks pondok pesantren proses hijrah juga dilakukan.

“Pembiasaan kehidupan yang nyaman dirumah harus digantikan dengan kehidupan yang penuh dengan kemandirian dan kedisiplinan,” jelas Ustadz Dr. Muhammad Nurul Humaidi dalam seminar peringatan tahun baru Islam, Selasa (11/9) di Tazkia International Conference Hall (TICH).

  

Sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad telah berdakwah menyebarkan Islam di Mekah. Semula, Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Syiar Islam kemudian dilakukan dengan terang-terangan. Ustadz humaidi juga mengibaratkan seperti santri Tazkia IIBS yang saat ini sedang mengalami masa Hijrah dari rumah ke pondok pesantren.

Kegiatan yang dibiasakan di pondok pesantren, lanjut Ustadz Humaidi, memang terkesan sangat berat. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara. Hikmah dan pembelajaran yang ada di pondok pesantren akan dinikmati ketika sudah lulus nantinya. Pemaknaan terhadap hijrah juga dapat ditafsirkan sebagai perpindahan kebiasaan.

 

“Yang sebelumnya shalat tahajud bisa dihitung jari, dengan masuk pondok pesantren akhirnya menjadi kebiasaan. Yang sebelumnya puasa sunnah tidak pernah, dengan masuk pondok pesantren jadi istiqomah puasa sunnah,” jelas Ustadz Humaidi lagi.

Ustadz humaidi menyampaikan, dalam berhijrah sudah menjadi anjuran dan sunnah Rasulullah SAW. Dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, ketika berdakwan dalam menyampaikan ajaran Islam Rasulullah sempat berhijrah dari Mekah ke Madinah.

Hijrah Nabi Muhammad SAW menjadi peristiwa besar bagi umat Islam. Kisah itu punya makna mendalam bagi muslimin dunia. Peristiwa itu kemudian menjadi awal tahun kalender Islam dan diperingati hingga sekarang.

“Semangat hijrah yang sudah tertanam itu harus dipertahankan. Begitu pula dengan kebiasaan baik yang sudah dibiasakan sebelumnya.” Tutup Ustadz Humaidi. (arf)

Share this post